T O R C H (Toxoplasma, Rubella,Cytomegalovirus, Herpes)


TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakti infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.

TOXOPLASMA
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi.
Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesipik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi

Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.
Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).

Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan atelinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis.

Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.
Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.

RUBELLA

Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.
Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).

Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM.
Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.
Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan

CYTOMEGALOVIRUS(CMV)

Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.
Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, ekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.


HERPES SIMPLEKS TIPE II

Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.
Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kuli, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus)
Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.


Beberapa metode pencegahan terhadap infeksi yang dianjurkan, antara lain:
1. Memasak bahan makanan dengan benar. Pemanasan pada suhu 700C selama 15- 30 menit dapat mematikan oocyst
2. Pengasapan, pengasaman, pengasinan makanan tidak dapat mematikan kista
3. Lalapan sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dimakan
4. Cuci tangan sebelum makan
5. Pemeliharaan kucing secara baik: buang/bakar kotoran sebelum kista mengalami sporulasi (sebelum 4 hari); bakar semua barang terkontaminasi kista
6. Pendonor darah/organ sebaiknya dilakukan screening test untuk toxoplasma
7. Dilakukan pemeriksaan serologis pada wanita yang merencanakan hamil
8. Hewan atau individu yang terlihat sakit sebaiknya segera dibawa ke dokter hewan/dokter.

Untuk terapi, obat yang biasanya dipergunakan adalah pyrimethamine yang dikombinasi dengan preparat sulfa. Obat tersebut toksik untuk kucing, sehingga biasanya diberikan dalam dosis kecil. Asam folat atau multivitamin dapat diberikan untuk memperbaiki kondisi tubuh. Kortikosteroid kadang diberikan dengan dosis yang sesuai, untuk menurunkan reaksi inflamasi. Obat lain yang sering digunakan adalah spiramisin, klindamisin.


SHARING dengan dr.Syahrul Mulyana:
juwitastani wrote on May 18, '08
Dok ade nyang bilang toxoplasma itu dari ikan, dan burung apa benar ketiga binatang ini pembawa virus toxoplasma,selain tikus ma babi dan kucing.
aseptp wrote on May 18, '08
Katanya justru orang yang di rumahnya ada kucing peliharaan, di dalam tubuh orang tersebut berkembang kekebalan terhadap penyakit ini. Apa ada bukti ilmiah tentang ini dok ??
walamanda wrote on May 18, '08
Teman teteh seorang guru dia kena toxoplasma matanya menjadi buta mendadak , kata dokter ahli mata itu akibat dari piaraan monyet kok bisa ya padahal di siklus di atas dari tikus babi dan kucing, gimana ini dok?
telstraisp wrote on May 18, '08
bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata <<<>
talitaresort wrote on May 19, '08
Aku punya 5 monyet terawat rapi semuanya bersih kadangnya setiap 2 hari sekali di bersihkan, ga mungkin kan dokter toxoplasma dari timbul dari kotoran monyet? aku berharap monyet tidak menyebabkan toxoplasma.
bubuligiran wrote on May 19, '08
kalau monyetnya ketemu sama tikus terus ketemu sama kucing bisa terjadi parasit ya dok..

* berharap monyetnya di sumbangkan ke ragunan soalnya kalau ada monyet aku jadi susah apel
dhuriat wrote on May 19, '08
penularan ini dari mana datangnya virus dari kotoran dari liur atau dari bulu binatang tikus kucing dan babi.
sitiduile wrote on May 19, '08
aseptp} berkata
Katanya justru orang yang di rumahnya ada kucing peliharaan, di dalam tubuh orang tersebut berkembang kekebalan terhadap penyakit ini. Apa ada bukti ilmiah tentang ini dok ??
bukan berkembang kekebalan tubuh bisa jadi justru pembawa karir toxoplasma, memang sih tidak semua orang yang memelihara kucing akan terserang virus ini, tergantung kucingnya suka ngerumpi tidak ke tetangga? kalau sering ngerumpi atau sering ngejar tikus liar bisa jadi sang tuan kena virus toxoplasma, secara medis tidak ada kekebalan dalam tubuh manusia untuk masuknya virus ini, karena semakin hari virus semakin canggih..untuk lebih jelas lagi nanti di jawab sama dokter syahrul..
sitiduile wrote on May 19, '08, diedit on May 19, '08
dhuriat} berkata
penularan ini dari mana datangnya virus dari kotoran dari liur atau dari bulu binatang tikus kucing dan babi.
Virus ini akan masuk ke kotoran hewan air kencing dan air liurnya, virus ini akan masuk ke pori pori tubuh manusia atau luka akan langsung ke darah manusia.
ns17 wrote on May 20, '08
juwitastani} berkata
Dok ade nyang bilang toxoplasma itu dari ikan, dan burung apa benar ketiga binatang ini pembawa virus toxoplasma,selain tikus ma babi dan kucing.
masuk dari ikan piaraan misalnya dari tambak yang aliran airnya ngak jelas gitu ya dok?
amelgt wrote on May 20, '08
Untung amel mah kurang suka memelihara binatang lebih suka menanam bunga jadi ngak mungkin toxoplasma masuk ke bibit bunga heu heu heu.
ms32 wrote on May 20, '08
juwitastani} berkata
Dok ade nyang bilang toxoplasma itu dari ikan, dan burung apa benar ketiga binatang ini pembawa virus toxoplasma,selain tikus ma babi dan kucing.
kalau dari ikan sejauh ini belum ya, kalau dari kucing, tikus, babi yang baru terdiktesi mengandung virus toxoplasma, sebenarnya kembali lagi ke soal lingkungan hidup yang sehat.
ms32 wrote on May 20, '08
aseptp} berkata
Katanya justru orang yang di rumahnya ada kucing peliharaan, di dalam tubuh orang tersebut berkembang kekebalan terhadap penyakit ini. Apa ada bukti ilmiah tentang ini dok ??
Kang Asep penelitian soal ini belum ada secara ilmiahnya, tidak semua orang yang memelihara kucing anggora misalnya kalau cara memeliharanya baik dan tidak sembarangan keluar rumah dan di rawat baik kandangnya, tidak akan terkena toxoplasma..
ms32 wrote on May 20, '08
walamanda} berkata
Teman teteh seorang guru dia kena toxoplasma matanya menjadi buta mendadak , kata dokter ahli mata itu akibat dari piaraan monyet kok bisa ya padahal di siklus di atas dari tikus babi dan kucing, gimana ini dok?
Kucing yang primer atau pembawa karir virus gondi atau toxoplasma, mengenai kebutaan bisa terjadi mungkin glokoma atau diabetes gula darah.
ms32 wrote on May 20, '08
telstraisp} berkata
bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata <<<>
karena demam tinggi maka akan mempengaruh syaraf mata, bisa juling bisa juga cepat katarak, dan rabun jauh dan rabun dekat, atau bisa juga buta mendadak seperti kasusnya kawan ibu walamanda.
ms32 wrote on May 20, '08
Aku punya 5 monyet terawat rapi semuanya bersih kadangnya setiap 2 hari sekali di bersihkan, ga mungkin kan dokter toxoplasma dari timbul dari kotoran monyet? aku berharap monyet tidak menyebabkan toxoplasma.
Secara alami virus ini terdapat pada monyet jenis Macaca dan sebagai reservoir host adalah Macaca mullata (rhesus), Macaca fascicularis, Macaca fuscata dan Macaca arctoides, ternyata pada Macaca jenis lainnya juga dapat ditemukan virus ini melalui uji serologi. Hampir semua macaca berpotensi carrier. Masa inkubasi pendek yakni 4-10 hari. Monyet yang terinfeksi virus ini kadang tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala klinis. Bila ada gejala klinis, tipe lesi ringan sehinga sulit dideteksi, lesi biasanya terdapat pada membrana mucosa dan bucal cavity dan kemungkinan terdapat vesikel dan ulserasi disekitar bibir dan lubang hidung, serta paling sering pada lidah. Kadang juga terlihat pada genitalia. Lesi yang terjadi mirip dengan lesi yang ditimbulkan oleh herpes virus simplex 1 pada manusia. Hanya 2-3 % gejala seperti lesi terlihat jelas pada Macaca. Lesi yang terjadi sering tidak diperhatikan oleh animal handler. Bila monyet terinfeksi oleh virus ini maka seumur hidup virus ini akan tetap ada dalam tubuhnya
ms32 wrote on May 20, '08
bubuligiran} berkata
kalau monyetnya ketemu sama tikus terus ketemu sama kucing bisa terjadi parasit ya dok..

* berharap monyetnya di sumbangkan ke ragunan soalnya kalau ada monyet aku jadi susah apel
Ha ha ha bicara lah baik baik sama tasya tuh..benar sekali mata rantainya bisa seperti itu.
ms32 wrote on May 20, '08
dhuriat} berkata
penularan ini dari mana datangnya virus dari kotoran dari liur atau dari bulu binatang tikus kucing dan babi.
Yang jelas dari air liur dari kotoran dari daging yang kurang matang misalnya suka dengan sate atau biasa mengkonsumsi daging setengah maha anda perlu hati hati disitu ada mengandung toxoplasma.
ms32 wrote on May 20, '08, diedit on May 20, '08
aseptp} berkata
Katanya justru orang yang di rumahnya ada kucing peliharaan, di dalam tubuh orang tersebut berkembang kekebalan terhadap penyakit ini. Apa ada bukti ilmiah tentang ini dok ??
Siklus hidup toxoplasma ada dua fase, yaitu fase intestinal dan ekstraintestinal. Fase intestinal hanya terjadi dalam intestinum kucing. Enzim pencernaan dihasilkan toxoplasma untuk menembus dinding intestinum. Reproduksi parasit menghasilkan berjuta-juta oocyst yang tidak infeksius, yang akan diekskresikan bersama feses. Di luar tubuh kucing, oocyst mengalami sporulasi (sporogony) yang terjadi paling lama 21 hari, dan menghasilkan oocyst infeksius. Pada daerah dengan suhu panas dan kelembaban tinggi, oocyst dapat tahan hidup sampai satu tahun. Fase ekstraintestinal dapat terjadi pada semua hewan atau manusia yang terinfeksi. Pada fase ini, bentuk tachyzoite (trophozoite) dapat menyebar ke berbagai organ melalui sirkulasi. Dalam jaringan akan berubah menjadi zoithocyste (bradyzoite) yang dapat menjadi persisten selama hidup, menjadi bentuk infeksi khornik atau laten<<<<<>
ms32 wrote on May 20, '08
sitiduile} berkata
Virus ini akan masuk ke kotoran hewan air kencing dan air liurnya, virus ini akan masuk ke pori pori tubuh manusia atau luka akan langsung ke darah manusia.
bisa melalui makanan yaitu daging yang kurang matang...
mevi2 wrote on Dec 5, '08
setelah membaca artikel ini sy tambah cemas deh. soalnya sy adalah salah satu penderitanya. udah melalui pengobatan selama 3 bulan oleh dokter kandungan setelah dicek darah di lab kok hasilnya jadi tambah tinggi bukan malah turun kadar virusnya. padahal seharusnya setelah mengkonsumsi obat kan kadarnya turun gitu. Gimana dong bisa kasih solusi gak ya atas kasus sy ini ?
mevi2 wrote on Dec 6, '08
Sore dok. sy mo nanya: 1. kenapa setelah terapi slm 3 bln toxoplasma n rubela sy malah tambah tinggi bukannya menurun ? 2. apakah sy hrs ganti obat atau diteruskan obat yg lama.. 3. apakah ada kasus sperti sy ini ? 4. langkah apa yg hrs sy lakukukan soalnya sy bingung berat dok melihat hasilnya, sy mrs sis-sia mengkonsumsi obat slm 3 bln . Jawab secepatnya ya dok ke Email sy : mevi2@yahoo.co.id
megamedline wrote on Jan 19, '09
dok...kira-kira punya artikel mengenai TORCH menurut WHO
bisa minta kepustakaan atau link nya
btk,, dok
totallyelmiya wrote on Feb 26, '09
Hallo doc.., dah baca PM ttg toxoplasma?
maimun wrote on Nov 14, '09
Dok, mohon izin untuk repost ya :) thanks in advance
adaagusta wrote on Jan 4
dr yg terhormat,
Adik saya semasa hamil terinfeksi CMV. Selama kehamilan diobati, hingga bayi lahir dan tampak normal. Masalahnya hingga umur 15 bulan kemampuan bahasa masih spt bubling, dg ya ya dan ba ba yg tampak jelas. Jika dipanggil namanya dari samping /belakang tidak menoleh langsung, ttp rasanya mampu mendengar suara -suara. Belum menunjuk benda dan menyebutkan namanya, namun nampaknya menyimak apa yg dibicarakan. Belum bisa berjalan sendiri, masih dituntun, namun sdh bisa berdiri sendiri tanpa berpegangan kadang-kadang. Apakah perkembangan yg agak terhambat dari bayi normal lainnya ada kaitan dg CMV yg dulu menginfeksi ibunya saat hamil?...atau masih dlm perkembangan yg wajar? sampai kapan kami perlu mencemaskan hal ini.
sarahsyuhada wrote on Jan 11
dok mata kiriku juling ni krna pada waktu dikandungan terkena toxoplsma.kira2 bsa sembuh tdk krna sblmnya divonis sdh tdk bsa berfungsi.Minimal posisi mata saya bsa kembali normal.Sblmya prnh operasi perubahan posisi tp msh tetap juling.mata kiri ini sangat menggangu saya disaat terkena cahaya, sinar yg sdikit berlebih.atopun kecapean ototnya terasa sangat tegang. apakah ad solusi yg terbaik dok?trims sblmya
nengiya wrote on Jan 13
dear dr.. mau tanya pemeriksaan rubella igg positif tetapi igm negatif.. setelah diberi obat oleh dr kandungan saya kembali periksa (kira2 1tahun kemudian) ternyata diperiksa kembali hasil tetap sama. igg positif, dan igm negatif. pertanyaan saya apakah itu berbahaya? mengingat saya sedang merencanakan kehamilan? say pernah baca, kalau hasil igg adalah deteksi lampau sehingga tidak berbahaya, yang harus diperhatikan adalah hasil igm, benarkah demikian? terima kasih banyak dokter saya tunggu jawabannya.
arinqori wrote on Mar 11
dokter yth, berdasarkan hasil lab setelah 2 kali janin sy tdk berkembang dan harus dikuret pada usia 3 bulan, rubella dan cmv igg saya positif. menurut dokter kandungan saya itu menandakan kalau saya pernah terserang rubella dan cmv tapi sistem imun tubuh sy bs mengatasinya, shg sy sdh pny antibodi. sy diberi jeda 3 bulan untuk 'semacam terapi', krn hrs mengkonsumsi obat yg isinya asam folat dan vit E. dengan kasus tersebutm apakah sy bisa hamil lg dengan aman?

Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis)

Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.

Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik, Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-12 tahun. Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya.
Adapun mereka yang beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid dan mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh.

  • Penularan Penyakit Gondongan
  • Penyakit Gondong (Mumps atau Parotitis) penyebaran virus dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari pertama sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar.
    Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh anti bodi yang baik. Seseorang yang pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.

  • Tanda dan Gejala Penyakit Gondongan
  • Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.

    Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat digambarkan sebagai berikut :
    1. Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong mengalami gejala: demam (suhu badan 38.5 – 40 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka mulut).
    2. Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami pembengkakan.
    3. Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis.
    4. Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada pria akil balik adalanya terjadi pembengkakan buah zakar (testis) karena penyebaran melalui aliran darah.

  • Diagnosis Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis)
  • Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeirksaan fisis, termasuk keterangan adanya kontak dengan penderita penyakit gondong (Mumps atau Parotitis) 2-3 minggu sebelumnya. Selain itu adalah dengan tindakan pemeriksaan hasil laboratorium air kencing (urin) dan darah.

  • Pemeriksaan Laboratorium
  • Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relative, didapatkan pula kenaikan kadar amylase dengan serum yang mencapai puncaknya setelah satu minggu dan kemudian menjadi normal kembali dalam dua minggu.
    Jika penderita tidak menampakkan pembengkakan kelenjar dibawah telinga, namun tanda dan gejala lainnya mengarah ke penyakit gondongan sehingga meragukan diagnosa. Dokter akan memberikan order untuk dilakukannya pemeriksaan lebih lanjut seperti serum darah. Sekurang-kurang ada 3 uji serum (serologic) untuk membuktikan spesifik mumps antibodies: Complement fixation antibodies (CF), Hemagglutination inhibitor antibodies (HI), Virus neutralizing antibodies (NT).
  • Komplikasi Akibat Penyakit Gondongan
  • Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa penyulit, tetapi kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat menyerang organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika infeksi terjadi setelah masa pubertas.

    Dibawah ini komplikasi yang dapat terjadi akibat penanganan atau pengobatan yang kurang dini :
    1. Orkitis ; peradangan pada salah satu atau kedua testis. Setelah sembuh, testis yang terkena mungkin akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis yang permanen sehingga terjadi kemandulan.

    2. Ovoritis : peradangan pada salah satu atau kedua indung telus. Timbul nyeri perut yang ringan dan jarang menyebabkan kemandulan.

    3. Ensefalitis atau meningitis : peradangan otak atau selaput otak. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku kuduk, mengantuk, koma atau kejang. 5-10% penderita mengalami meningitis dan kebanyakan akan sembuh total. 1 diantara 400-6.000 penderita yang mengalami enserfalitis cenderung mengalami kerusakan otak atau saraf yang permanen, seperti ketulian atau kelumpuhan otot wajah.

    4. Pankreatitis : peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama. Penderita merasakan mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan menghilang dalam waktu 1 minggu dan penderita akan sembuh total.

    5. Peradangan ginjal bisa menyebabkan penderita mengeluarkan air kemih yang kental dalam jumlah yang banyak

    6. Peradangan sendi bisa menyebabkan nyeri pada satu atau beberapa sendi.

  • Pengobatan Penyakit Gondongan
  • Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas dan kelenjar (parotis) membengkak. Dapat digunakan obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan analgesik) misalnya Parasetamol dan sejenisnya, Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye (Pengaruh aspirin pada anak-anak).
    Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat tirah baring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres Es pada area testis yang membengkak tersebut. Sedangkan penderita yang mengalami serangan virus apada organ pancreas (pankreatitis), dimana menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.
    Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis. Terhadap virus itu sendiri tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba, sehingga Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik dengan sendirinya.

    Penyakit gondongan sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yg sembuh sendiri tanpa diobati). Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak.
    Jika pada jaman dahulu penderita gondongan diberikan blau (warna biru untuk mencuci pakaian), sebenarnya itu secara klinis tidak ada hubungannya. Kemungkinan besar hanya agar anak yang terkena penyakit Gondongan ini malu jika main keluar dengan wajah belepotan blau, sehingga harapannya anak tersebut istirahat dirumah yang cukup untuk membantu proses kesembuhan.
  • Pencegahan Penyakit Gondongan (Mumps/Parotitis)
  • Pemberian vaksinasi gondongan merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak, yaitu imunisasi MMR (mumps, morbili, rubela) yang diberikan melalui injeksi pada usia 15 bulan.
    Imunisasi MMR dapat juga diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang belum menderita Gondong. Pemberian imunisasi ini tidak menimbulkan efek apanas atau gejala lainnya. Cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar Iodium, dapat mengurangi resiko terkena serangan penyakit gondongan.
    (infopenyakit)

    Penyakit Kaki Gajah

    Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit tersebut.

    Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Penyakit Kaki Gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan memalukan bahkan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.

    Penyakit Kaki Gajah umumnya banyak terdapat pada wilayah tropis. Menurut info dari WHO, urutan negara yang terdapat penderita mengalami penyakit kaki gajah adalah Asia Selatan (India dan Bangladesh), Afrika, Pasifik dan Amerika. Belakangan banyak pula terjadi di negara Thailan dan Indonesia (Asia Tenggara).

  • Penularan Penyakit Kaki Gajah

  • Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut.

    Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.

  • Tanda dan Gejala Penyakit Kaki Gajah

  • Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah umumnya terjadi pada usia kanak-kanak, dimana dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai dirasakan perkembangannya.


    Adapun gejala akut yang dapat terjadi antara lain :
    • Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat

    • Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit

    • Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)

    • Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah

    • Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema)

    Sedangkan gejala kronis dari penyakit kaki gajah yaitu berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

  • Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Kaki Gajah

  • Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah, Sampai saat ini hal tersebut masih dirasakan sulit dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan menampilkan diri dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja (nocturnal periodicity).

    Selain itu, berbagai methode pemeriksaan juga dilakukan untuk mendiagnosa penyakit kaki gajah. Diantaranya ialah dengan system yang dikenal sebagai Penjaringan membran, Metode konsentrasi Knott dan Teknik pengendapan.

    Metode pemeriksaan yang lebih mendekati kearah diagnosa dan diakui oleh pihak WHO adalah dengan jalan pemeriksaan sistem "Tes kartu", Hal ini sangatlah sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit (larva). Yaitu dengan cara mengambil sample darah sistem tusukan jari droplets diwaktu kapanpun, tidak harus dimalam hari.

  • Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah

  • Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi.

    Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak ada resistensi obat. Penderita yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah diatasi dengan obat simtomatik.

    Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan oral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau
    dalam keadaan lemah.

    Namun pada kasus penyakit kaki gajah yang cukup parah (sudah membesar) karena tidak terdeteksi dini, selain pemberian obat-obatan tentunya memerlukan langkah lanjutan seperti tindakan operasi.

  • Pencegahan Penyakit Kaki Gajah

  • Bagi penderita penyakit gajah diharapkan kesadarannya untuk memeriksakan kedokter dan mendapatkan penanganan obat-obtan sehingga tidak menyebarkan penularan kepada masyarakat lainnya. Untuk itulah perlu adanya pendidikan dan pengenalan penyakit kepada penderita dan warga sekitarnya.

    Pemberantasan nyamuk diwilayah masing-masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting untuk mencegah terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.