Anda Mendengkur ? Waspadai Resiko Penyakit Jantung

Jika anda sering mendengkur dan merasakan kantuk di siang hari, anda mungkin mengalami kondisi yang disebut dengan gangguan mendengkur atau “apnea tidur”. Walaupun ini mungkin juga efek samping dari suatu penyakit asma dan diabetes, apnea tidur sering kali tidak terdiagnosa sebagai “suatu epidemik tersembunyi”.

Apa sebenarnya gangguan mendengkur atau apnea tidur (OSA/Obstructive Sleep Apnea) ?
Umumnya, otot-otot yang mengendalikan lidah dan jaringan lunak langit-langit mulut akan menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Jika otot-otot itu terlalu rileks, saluran pernapasan jadi menyempit dan ini mengakibatkan orang tidur mendengkur. Jika saluran pernapasan tersebut semakin menyempit, akan mengakibatkan kesulitan dalam bernapas. Kadang-kadang, saluran pernapasan jadi tertutup sama sekali sehingga orang tersebut menjadi berhenti bernafas atau mengalami apa yang disebut dengan “gangguan apnea tidur ”. Ini dapat berlangsung selama sepuluh detik atau lebih. Hal ini dapat terjadi berulang-ulang kali bahkan bisa ratusan kali selama tidur.


Jika sering mengalami apnea tidur, maka kita akan berusaha untuk dapat bernapas, menjadikan otak dan jantung bekerja lebih keras. Jika dari malam ke malam tidur terganggu seperti ini, maka tubuh akan mengalami semacam kelelahan yang mempengaruhi kualitas hidup, pekerjaan dan juga hubungan pertemanan. Pasangan kita mungkin juga sering memperhatikan saat tidur dan melihat gejala-gejala apnea tidur pada diri kita, dimana tidur mendengkur kemudian sempat diam sesaat, lalu mungkin mendengkur kembali dengan suara dengkur yang sangat keras dan diikuti tarikan napas panjang dan dalam, dan menarik napas kembali.

Bagaimana Mengenali Gangguan Mendengkur atau Apneu Tidur (OSA/Obstructive Sleep Apnea) ?
Gejala-gejala yang dapat dikenali untuk gangguan mendengkur atau Apnea tidur (OSA / Obstructive Sleep Apnea) ini sebagai berikut :
  • Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari – Kebanyakan orang yang mengidap gangguan mendengkur atau apnea tidur merasa sangat lelah pada siang hari. Mereka bahkan dapat tertidur ketika sedang bekerja, berkendara, sedang berdiskusi, sedang membaca atau menonton TV.
  • Dengkuran yang keras – Kebanyakan orang yang mengidap gangguan mendengkur atau apnea tidur mendengkur dengan keras. Sering sekali diselingi dengan tarikan napas panjang yang spontan dan cepat.
  • Mudah tersinggung – diakibatkan kurang tidur dan stres untuk menjalani hidup normal, penderita gangguan mendengkur atau apnea tidur seringkali menjadi mudah tersinggung. Konsekuensi yang lebih serius berkaitan dengan OSA termasuk depresi, tekanan darah tinggi, gangguan jantung yang serius, masalah seksual, kehilangan daya ingat, kemerosotan intelektual dan sakit kepala di pagi hari.
Siapa saja yang beresiko mengidap Gangguan mendengkur atau Apnea tidur ?
snoring
Penderita gangguan mendengkur atau apnea tidur mencapai 10% populasi orang dewasa. Dapat juga ditemukan pada berbagai usia mulai dari bayi yang baru lahir sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita.

Resiko serius bagi kesehatan Anda ?
Riset terakhir menunjukkan bahwa gangguan mendengkur dan apnea tidur berkaitan erat dengan penyakit-penyakit serius. Perawatan yang diabaikan bisa menimbulkan resiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, diabetes dan depresi.
  • Lebih dari 35% orang-orang yang mengalami gangguan mendengkur atau apnea tidur menderita tekanan darah tinggi,yang meningkatkan resiko penyakit jantung. (1)
  • Secara signifikan, 83% pasien menderita tekanan darah tinggi berkelanjutan meskipun mereka meminum tiga jenis atau lebih obat-obatan, juga mengidap gangguan mendengkur atau apnea tidur (2)
  • Hampir 70% orang-orang yang pernah terkena stroke, menderita gangguan mendengkur atau apnea tidur (3)
  • Seseorang yang menderita gangguan mendengkur atau apnea tidur memiliki rasio kecelakaan berkendaraan tujuh kali lebih tinggi (4) dibandingkan yang tidak memiliki gangguan tersebut.
  • OSA atau apnea tidur berhubungan dengan hampir lima kali lipat peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler terlepas dari tingkat usia, indeks masa tubuh, tekanan darah sistolik & diastolik, dan kebiasaan merokok pada saat ini.(5)
Dapatkah kondisi ini diobati ?
Terapi yang paling umum untuk pengobatan gangguan mendengkur atau apnea tidur adalah penggunaan nasal Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), dimana terapi ini tidak membutuhkan pemberian obat atau pembedahan. Alat CPAP mengalirkan udara dalam tekanan tertentu melalui sebuah masker hidung yang ukurannya dapat disesuaikan sehingga menjamin kenyamanan terapi. Tekanan udara yang dialirkan seperti “balutan udara” yang berfungsi untuk menjaga saluran udara tetap terbuka dan mencegah penyumbatan jalan napas.

Jika Anda atau keluarga Anda merasakan salah satu gejala gangguan mendengkur atau apnea tidur ini, mintalah dokter Anda untuk merujuk atau mereferensikan Anda ke klinik pemeriksaan tidur atau rumah sakit yang mempunyai fasilitas untuk memastikan apakah Anda mengidap gangguan mendengkur atau apnea tidur tersebut.(medicastore)

Rujukan
  1. Worsnop dkk.Am J Respir Crit Care Med.1998
  2. Logan dkk.J Hypertension.2001
  3. Bassetti dkk.Sleep.1999
  4. Young T,Blustein J,dkk.Sleep.1997
  5. Peker dkk.Am J Respir Crit Care Med 2000

Tentang dr. Dyta Harlita


dr. Dyta Harlita merupakan dokter umum kelahiran Bandung yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro tahun 2005 & saat ini bermukim di Denpasar, Bali serta mengelola sebuah klinik swasta disana.

Bahaya Resistensi Antibiotika

antibiotikAntibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander Fleming pada tahun 1927 menemukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara umum pada tahun 1940, maka antibiotika bisa dibilang merubah dunia pengobatan serta mengurangi angka kesakitan & kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis.

Arti antibiotika sendiri pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh jamur atau mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada hewan & manusia. Saat ini beberapa jenis antibiotika merupakan senyawa sintetis (tidak dihasilkan dari mikororganisme) tetapi juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, zat yang dapat membunuh bakteri baik berupa senyawa sintetis atau alami disebut dengan zat antimikroba, akan tetapi banyak orang yang menyebutnya dengan antibiotika. Meskipun antibiotika mempunyai manfaat yang sangat banyak, penggunaan antibiotika secara berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi antibiotika.

Cara kerja  antibiotik
Untuk memahami cara kerja antibiotika, perlu diketahui dahulu 2 jenis kuman yang banyak menimbulkan penyakit, yaitu bakteri & virus. Meskipun ada beberapa bakteri & virus tertentu yang dapat menyebabkan penyakit dengan gejala yang mirip, tetapi baik bakteri & virus mempunyai cara reproduksi serta penyebaran penyakit yang berbeda.
  • Bakteri merupakan organisme hidup bersel satu. Bakteri dapat ditemukan di mana saja & sebagian besar tidak menimbulkan bahaya atau malah menguntungkan seperti misalnya Lactobacillus, yaitu bakteri yang hidup di usus halus & membantu untuk mencerna makanan. Tetapi ada juga bakteri yang berbahaya & menimbulkan penyakit karena menyerang tubuh, berkembang biak & mengganggu fungsi normal tubuh. Antibiotika efektif untuk melawan bakteri karena dapat membunuh organisme tersebut serta menghambat pertumbuhan ataupun reproduksi bakteri.

  • Virus, bukan merupakan mahluk hidup & tidak dapat berdiri sendiri. Virus merupakan partikel yang berisi materi genetik yang dibungkus oleh lapisan protein. Virus hanya dapat hidup, tumbuh & bereproduksi hanya setelah mereka masuk kedalam sel hidup. Sebagian virus dapat dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh sebelum mereka menimbulkan penyakit, akan tetapi ada juga jenis virus lain (seperti virus flu) yang menimbulkan penyakit tetapi dapat hilang dengan sendirinya. Virus tidak bereaksi terhadap antibiotika sama sekali.
Bahaya resistensi  antibiotika
Antibiotika sejak pertama digunakan pada tahun 1940 merupakan salah satu kemajuan besar dalam dunia pengobatan. Akan tetapi peresepan yang berlebihan terhadap antibiotika mempunyai dampak terhadap perkembangan bakteri yang menjadi tidak responsif terhadap pemberian antibiotika, yang sebelumnya pernah berhasil (resisten). Selain itu anak-anak yang mengkonsumsi antibiotika yang seharusnya tidak diperlukan mempunyai resiko untuk mengalami efek samping lain, seperti gangguan perut & diare.

Resistensi antibiotika sendiri adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk menahan efek antibiotika. Resistensi antibiotika terjadi ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga dapat mengurangi efektifitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit infeksi. Akibatnya bakeri tersebut tetap dapat bertahan hidup & bereproduksi sehingga makin membahayakan.

Bakteri tersebut dapat membentuk ketahanan khusus terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan orang yang terkena penyakit tersebut. Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat adanya anggapan bahwa yang resisten terhadap obat tertentu adalah tubuh orang, padahal sebenarnya bakteri yang ada di dalam tubuh tersebutlah yang menjadi resisten terhadap pengobatan, bukan tubuhnya.

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat & kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar ke anggota keluarga, teman ataupun tetangga lain sehingga mengancam masyarakat akan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati & lebih mahal juga biaya pengobatannya.

cara bakteri  menjadi resisten terhadap antibiotika
bacteriaMeminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus, tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan.

Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. Setiap seseorang menggunakan antibiotika, maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada, tumbuh & bereproduksi. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran, frekwensi dan lama penggunaan obat).

Cara  mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik
Kita dapat berperan secara aktif untuk menghambat terjadinya resistensi bakteri, caranya adalah dengan menggunakan obat antibiotika secara tepat & sesuai range terapi. Meskipun antibiotika merupakan obat yang sangat kuat, akan tetapi antibiotika hanya efektif untuk digunakan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri & bukan oleh mikroba lain seperti misalnya demam, batuk atau flu. Berikut beberapa tips yang bermanfaat apabila kita berobat ke dokter :
  • Tanyakan apakah antibiotika yang diberikan bermanfaat terhadap penyakit yang tengah diderita saat ini.
  • Jangan gunakan obat antibiotika untuk penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus seperti flu.
  • Apabila mendapatkan antibiotika, harus digunakan sampai habis. Jangan sisakan antibiotika tersebut untuk pengobatan di lain waktu.
  • Gunakan antibiotika yang diberikan sesuai saran dari dokter. Gunakan secara rutin sampai habis meskipun sudah merasa sehat. Jika pengobatan antibiotika dihentikan terlalu cepat, maka beberapa bakteri dapat bertahan hidup & menimbulkan infeksi kembali.
  • Jangan gunakan antibiotika yang di resepkan untuk orang lain. Terkadang karena merasa gejala penyakit yang dirasakan sama, maka kita menyamakan pengobatan dengan orang tersebut, padahal bisa jadi kebutuhan tiap orang berbeda.
  • Jika dokter menyimpulkan bahwa penyakit kita tidak memerlukan pengobatan antibiotika, tanyakan pengobatan lain yang dapat membantu meredakan gejala yang kita rasakan. Jangan paksa dokter untuk memberikan antibiotika kepada kita.(medicastore)

Dampak Insomnia Terhadap Kesehatan Tubuh

Insomnia atau susah tidur diartikan sebagai persepsi atau keluhan atas berkurangnya waktu tidur dengan gejala-gejala sebagai berikut : kesulitan untuk tidur, terjaga dari tidur berulang kali dengan kesulitan untuk tidur kembali, terjaga dari tidur terlalu dini atau tidur yang tidak memulihkan/menyegarkan serta telah berlangsung setidaknya selama satu bulan.

Insomnia sendiri berdampak merugikan karena dapat menyebabkan kurang maksimalnya pemanfaatan waktu di sepanjang hari sehingga menyebabkan turunnya produktivitas & kualitas hidup, meningkatnya absensi di pekerjaan & kecelakaan kerja, serta dapat menimbulkan gangguan fisik & psikiatrik. Demikian diungkapkan oleh Dr.dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K) dalam press conference pada acara Konferensi Nasional III Psikoterapi 2010, di Novotel Hotel, Sabtu 1 Mei 2010.


Ki-ka : dr. Bernardus Sidharta (PT. Takeda Indonesia); Moderator; Dr.dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K); dr. Tun. K. Bastaman, SpKJ (K) (Ketua PDSKJI); Dr. Petrin Redayani L.S, SpKJ (Ketua Panita Konas III Psikoterapi 2010)


Dr. Nurmiati juga menambahkan bahwa untuk penanganan insomnia perlu dilakukan secara komprehensif, karena penyebab insomnia sendiri dapat berasal dari gangguan fisik atau psikologik. Menurut beliau, langkah pertama dalam penatalaksanaan insomnia adalah pemeriksaan pasien, baik secara fisik ataupun psikologik. Pemeriksaan fisik misalnya pemeriksaan penyakit tertentu seperti hipertensi, RA, gangguan hormonal dll. Sedangkan pemeriksaan psikologik misalnya depresi, ansietas, gangguan kepribadian dll. Apabila terdapat gangguan fisik, maka gangguan tersebut harus ditangani terlebih dahulu, baru kemudian terapi farmakologi dengan memberikan obat yang aman & tidak menimbulkan ketergantungan untuk mengatasi insomnia dapat diberikan. Selain terapi farmakologi, terapi non farmakologi seperti misalnya terapi tingkah laku (Cognitive Behavioral Therapy) dapat pula diberikan untuk dapat merubah prilaku & kognisi seseorang terkait dengan masalah tidur.

insomniaTidur terutama pada malam hari sangat penting untuk kesehatan tubuh & hal tersebut tidak dapat digantikan oleh tidur pada waktu lain. Karena pada tidur malam hari metabolisme otak diperbaiki, neuron juga teraktifasi sehingga meningkatkan daya ingat & juga sistem kekebalan tubuh meningkat. Apabila mengalami insomnia maka dapat berakibat kurangnya konsentrasi, menurunnya daya ingat, menurunnya kemampuan berbahasa, timbulnya gangguan psikiatrik (depresi,ansietas dll) serta gangguan kesehatan lain.

Di Indonesia sendiri, prevalensi penderita insomnia diperkirakan mencapai 10 %, yang artinya dari total 238 juta penduduk Indonesia, sekitar 23 juta jiwa diantaranya menderita insomnia, baik untuk jenis insomnia transien (kesulitan tidur <> 4 minggu). Tetapi karena kurang dianggap penting, maka banyak juga orang yang tidak menyadari dirinya mengalami kesulitan tidur atau kurang mencari pertolongan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada acara kemarin, Dr. Nurmiati juga menyebutkan bahwa tidur merupakan hal yang bersifat individual, dalam arti kebutuhan tiap orang untuk tidur yang berkualitas dapat berbeda-beda, jadi tidak dapat disama ratakan waktu tidur yang sama untuk tiap orang. Tetapi rata-rata kebutuhan tidur untuk orang dewasa antara 5-8 jam setiap harinya, sedangkan pada anak-anak lebih lama lagi & pada orang tua biasanya makin pendek. Salah satu ciri yang menandakan bahwa tidur yang kita alami merupakan tidur yang berkualitas adalah : adanya rasa segar di pagi hari & tidak mengantuk di siang hari.(medicastore)

Cegah Dehidrasi Ringan dengan Pemeriksaan Urin Sendiri (PURI)

Air sering terlupakan dalam pemenuhan kebutuhan pangan, padahal pangan tidak hanya meliputi makanan tetapi juga minuman. Air merupakan zat gizi esensial bagi kehidupan untuk hidup sehat dan aktif. Namun demikian dalam praktek penyampaian pesan atau sosialisasi gizi seimbang untuk hidup sehat dan aktif, pesan minumlah air yang aman dan cukup jumlahnya setiap hari seringkali terabaikan. Padahal sejak tahun 1994 Depkes telah menganjurkan pesan tersebut.

National Research Council Amerika Serikat merekomendasikan 1ml air/kkal kebutuhan energi bagi orang dewasa di bawah kondisi rata-rata kebutuhan energi dan lingkungan. Di Indonesia, sejak tahun 2004 melalui forum Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) para ahli gizi Indonesia telah menetapkan anjuran kebutuhan air bagi setiap golongan umur dan jenis kelamin, seperti halnya kebutuhan akan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Selanjutnya yang perlu ditetapkan adalah kebutuhan air menyertai terapi dari berbagai penyakit.

DSC03332
Dari ki-ka: Prof. Dr. H. Hardinsyah, MS; dr. Rachmi Untoro, MPH; Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc (Ketua Panitia Simposium PDGMI); Laurent le Bellego, PhD

Berbagai masalah ini mengemuka dalam simposium Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) yang berlangsung pada hari Minggu, 21 Maret 2010 di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Simposium tersebut diberjudul “Hydration and Health” yang mengangkat tentang pentingnya minum air untuk mencegah dehidrasi yang akan berdampak pada masalah kesehatan yang lebih serius. Ketua PP-PDGMI, dr. Rachmi Untoro, MPH dalam kesempatan hari ini menyatakan, “Air yang dalam seharinya dibutuhkan sampai lebih dari dua liter, sudah memenuhi persyaratan sebagai zat gizi karena merupakan ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, terutama untuk mengatur proses kehidupan. Namun ternyata sampai saat ini air belum dimasukkan sebagai salah satu zat gizi makro (bersama dengan karbohidrat, lemak, dan protein). Asupan air seperti halnya asupan makronutrien lainnya tersebut dapat berasal dari makanan dan minuman sehari-hari untuk mempertahankan kesehatan tubuh.”

Tujuan diadakan simposium PDGMI, lanjutnya, adalah sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesadaran gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia khususnya tentang peranan air sebagai salah satu zat gizi yang vital bagi kesehatan utamanya terkait dengan masalah dehidrasi ringan kronis yang tanpa disadari sedang terjadi di Indonesia. Upaya pencegahan dehidrasi ringan sedini mungkin perlu segera disosialisasikan dengan cara yang praktis, yaitu menggunakan grafik warna untuk pemeriksaan urin sendiri atau disingkat PURI. Cara pemeriksaan ini sangat mudah dan praktis. Semua jenis urin dapat digunakan, asal bukan urin pagi saat bangun tidur. Yang paling bagus adalah menggunakan ‘mid-stream urine” yaitu urin yang keluar di pertengahan saat kita berkemih. Urin ini ditampung dalam jumlah secukupnya di tempat yang bersih dan berwarna putih/bening, kemudian kita membandingkan warna urin tersebut dengan grafik warna di bawah sinar lampu neon putih atau sinar matahari. Hindarkan memeriksa urin ini di bawah sinar lampu berwarna kuning atau warna lainnya karena bisa membuat pemeriksaan menjadi bias. Jangan lupa pula bahwa warna urin juga dipengaruhi obat- obatan ataupun diet tertentu. PURI ini dikembangkan oleh Prof. Armstrong, ahli kedokteran olah raga dari Amerika Serikat. Penemuan beliau ini telah digunakan dalam beberapa event besar olah raga seperti Olimpiade di Beijing dan Athena. PURI ini telah direkomendasi penggunaannya oleh PDGMI dan dibuat dalam bentuk poster serta stiker.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Prof.Dr.Ir.Hardinsyah, MS, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia dalam ceramahnya mengungkapkan bahwa sekitar separuh orang dewasa dan remaja mengalami dehidrasi ringan (kekurangan air tubuh pada tingkat ringan). Angka ini diperoleh dari hasil penelitian The Indonesian Hydration Study (THIRST) yang dilakukan pemeriksaan urin secara laboratorium terhadap 1200 sampel di wilayah Jakarta, Lembang, Surabaya, Malang, Makasar dan Malino. Penelitian yang dilakukan secara kolaboratif oleh tiga Perguruan Tinggi tersebut (FEMA IPB, FKM UNAIR dan FKM UNHAS) juga mengungkapkan bahwa kejadian dehidrasi ringan pada remaja lebih tinggi dibanding pada orang dewasa; dan kejadian dehidrasi ringan pada daerah dataran rendah yang panas lebih tinggi dibanding di dataran tinggi yang sejuk. Faktor terjadinya dehidrasi ringan ini adalah ketidaktahuan dan kesulitan akses (memperoleh) secara fisik dan ekonomi memperoleh air minum. Enam dari setiap 10 responden (sekitar 60%) tidak mengetahui bahwa diperlukan minum yang lebih banyak bagi ibu hamil dan menyusui serta bagi orang yang berada dalam lingkungan dingin.

Jangan anggap enteng kekurangan air tubuh. Kekurangan air tubuh 1% mulai menimbulkan rasa haus dan gangguan mood, kekurangan air tubuh 2-3% meningkatkan suhu tubuh, rasa haus dan gangguan stamina; kekurangan air tubuh 4% dapat menurunkan kemampuan fisik 25%, dan pingsan bila kadar air tubuh berkurang sampai 7% (Grandjean&Ruud, 1994. Nutrition for Cyclists, (Clinics in Sports Med).

“Setiap individu dianjurkan untuk mempertahankan status hidrasinya dalam keadaan normal atau adanya keseimbangan air dalam tubuh. Cara mempertahankan status hidrasi adalah dengan menjaga kecukupan air dalam tubuh. Jumlah air yang dibutuhkan sangat bervariasi dan bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi, suhu dan kelembaban lingkungan, tingkat aktivitas fisik, jenis kelamin dan usia. Selain itu, penting untuk memperhatikan jenis air yang aman untuk diminum yakni air yang tidak memiliki warna, bau dan rasa serta tidak mengandung zat berbahaya, tidak tercemar pestisida, jamur, logam dan bahan lain yang berbahaya bagi tubuh,” demikian himbauan PDGMI.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai PURI ini dapat menghubungi :
Sekretariat PP-PDGMI di nmr telp. 021-3142889 atau melalui email : pdgmipusat@yahoo.co.id

Apakah Anda Sudah Terlindungi? Lawan Kanker Serviks Sekarang


Dari milis wartawan kesehatan. 80% kasus kanker serviks atau kanker leher rahim ditemukan di negara berkembang. Di Indonesia sendiri terdapat 90-100 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk. Bagi perempuan Indonesia kanker serviks diyakini sebagai pembunuh pertama selain kanker payudara. Tingginya kasus di negara berkembang ini disebabkan oleh terbatasnya akses screening dan pengobatan serta lambatnya perkembangan virus dalam tubuh.
Kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala atau keluhan hingga sampai taraf yang sudah lanjut atau parah, sehingga banyak upaya pengobatan yang dilakukan sudah dalam keadaan terlambat. Hal ini juga didukung dengan anggapan umum yang salah mengenai penyebab kanker serviks. Banyak kaum perempuan merasa tidak berisiko karena mereka menjalani hidup sehat serta tidak berganti pasangan.
Padahal fakta menunjukkan bahwa setiap perempuan tanpa memandang usia dan latar belakang, berisiko terkena kanker serviks.
Menurut dr. Ulana Said dari Yayasan Kanker Indonesia – DKI Jakarta. “Banyak wanita yang belum memahami mengenai kanker serviks. Mereka datang berobat atau mengetahui kondisinya saat stadium lanjut. Padahal kanker serviks bisa dicegah, misalnya dengan melakukan vaksinasi,”.
Biaya pengobatan kanker serviks amat mahal, mencapai ratusan juta rupiah. “Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Lakukan deteksi dini kanker serviks dengan pap smear. Jika hasil pap smear negatif, disarankan untuk melakukan vaksinasi agar terhindar dari bahaya kanker serviks,” imbuh dr Ulfana.
Mengingat kanker serviks umumnya terjadi saat wanita di usia produktif, hal ini tentu menimbulkan kecemasan tersendiri, khususnya jika yang bersangkutan juga menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.
“Menjaga kesehatan dengan melakukan pencegahan terhadap penyakit termasuk investasi. Dengan tetap sehat, maka wanita tetap bisa bekerja, pendapatan keluarga tidak terancam, karena sakit membutuhkan banyak biaya, apalagi jika tak memiliki asuransi,” ujar M. Ichsan, perencana keuangan dari IFPI.
Ichsan menambahkan, sebagai wanita bijak, sudah seharusnya jika merencanakan keuangan keluarga mesti dilakukan sejak dini. “Ada dua aspek dalam merencanakan keuangan keluarga, yaitu jangka pendek dan jangka panjang,” ujar Ichsan.

Perencanaan keuangan jangka pendek misalnya dana darurat, sedangkan jangka panjang misalnya asuransi (kesehatan, pendidikan, dana pensiun). “Besaran dana darurat yang harus tersedia minimal 3 kali pengeluaran bulanan. Dengan dana ini, jika seseorang sakit sementara tak ada asuransi, tidak sampai harus mengorbankan aspek investasi jangka panjang, misalnya dana pendidikan anak atau dana pensiun,” ulas Ichsan. Dana darurat sebaiknya disimpan di aset likuid atau yang mudah diuangkan sehingga dapat digunakan saat dibutuhkan.
Untuk tujuan jangka panjang, Ichsan menyarankan setiap orang memiliki asuransi, misalnya asuransi kesehatan. “Asuransi ini sangat berguna jika jatuh sakit. Biaya kesehatan sekarang mahal, sedangkan sakit bisa kapan saja tanpa bisa kita prediksi, namun kita bisa antisipasi dengan mengikuti asuransi,” ujarnya. Perencana keuangan ini menyarankan setiap keluarga harus memiliki anggaran untuk tujuan jangka panjang. “Jangan hanya memikirkan jangka pendek untuk bersenang-senang saja,” pesannya. (medicastore) Bagaimana menurut anda ?