Kacang Turunkan Kolesterol

New York : Sebuah studi terbaru dari Loma Linda University di California menyebutkan mengkonsumsi kacang dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

"Kacang memiliki kadar kolesterol yang rendah," kata Dr. Joan Sabete, peneliti di Loma Linda University di California seperti dikutip dari situs berita Reuters.

Penelitian ini dilakukan terhadap 583 pria dan wanita dari tujuh negara berbeda. Dari hasil tes kesehatan, mereka memiliki kadar kolesterol yang bervariasi, ada yang tinggi dan ada juga yang rendah. Hasilnya, dengan memakan rara-rata 67 gram atau sekitar 2,4 ons kacang perhari maka kadar kolesterol turun sampai 11 persen.

Menurut US Food and Drug Administration tahun 2003, dengan makan 1,5 ons kacang setiap hari dapat mengurangi risiko sakit jantung.(reuters)

Obat Diabetes Meningkatkan Risiko Stroke

New York: Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) mengindikasi bahwa pengembangan obat diabetes memiliki efek buruk pada jantung. Temuan ini berasal dari Kardiolog Klinik Cleveland, Dr. Steven Nissen, yang mengkaji obat diabetes dua tahun lalu. Hasilnya, Nissen mendapati adanya hubungan antara risiko penyakit jantung dan obat diabetes.

Lebih lanjut, penderita diabetes tidak dapat menyerap karbohidrat dengan baik, karena tubuh mereka tidak mampu memproduksi insulin atau bahkan resisten terhadap insulin. Setelah menahun, mereka berisiko tinggi serangan jantung, ginjal, kebutaan dan komplikasi serius lainnya.

Adapun, serangan jantung merupakan penyebab utama kematian penderita diabetes. Hal ini bakal terjadi ketika pengobatan seperti suntik insulin atau pil metformin, tidak mengindahkan penderita yang memiliki masalah jantung.

Sementara, Kepala Divisi Pengawas Obat Diabetes FDA, Dr Mary Parks, mengatakan, Badan Pengawas sedang memproses panduan baru yang telah disetujui untuk obat baru diabetes. "Semakin banyak kami tahu tentang keamanan suatu obat, maka itu lebih baik bagi dokter untuk membuat keputusan," kata Parks, seperti dilansir Yahoo News baru-baru ini. Parks juga memastikan bahwa FDA akan menerapkan Kebijakan standar lebih ketat untuk pengujian obat diabetes.

Hal itu sejalan dengan Nissen, "idenya adalah tidak membuat standar yang tinggi, dan menekan inovasi baru dalam pengembangan obat, namun memastikan klinik memiliki informasi yang mereka butuhkan."

Biasanya dalam studi, orang yang dipilih buat menguji obat kerapkali lebih muda dan sehat ketimbang pasien yang betul-betul membutuhkan obat. Badan Pengawas menginginkan, obat harus diuji kepada pasien yang berisiko tinggi, seperti orang tua, atau mereka yang menderita diabetes parah dan bermasalah ginjalnya. Studi juga harus dilakukan lebih panjang, agar tampak dampaknya secara bertahap terhadap peningkatan tekanan darah.

Kini, sekitar 23 juta orang di Amerika mengidap diabetes tipe dua, yang dianggap sebagai wabah di kalangan dewasa, dan bahkan remaja juga anak-anak.(Y!News)

Meski Tubuh Tak Sehat, Bercinta Tetap Nikmat

Sebagian orang memiliki penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, diabetes atau pun asma. Hal ini bisa menyebabkan kondisi tubuh lemah dan mudah lelah, yang akan berpengaruh dengan kehidupan seksual pasangan suami istri.

pasangan

Sebuah yayasan keluarga di Amerika mempunyai tips kesehatan bagaimana menikmati seks meskipun menderita penyakit kronis:

Kenali kondisi tubuh pada saat energi dan kesehatan mencapai puncak dan rencanakan untuk melakukan aktifitas seksual pada saat itu bersama pasangan anda.

Usahakan mencari saat-saat santai dan membuat kondisi merasa senyaman mungkin.

  • Jangan melakukan aktifitas seks dalam rentang dua jam setelah makan.

  • Jika anda menggunakan obat-obatan, usahakan 30 menit sebelum melakukan hubungan seks

  • Segeralah menjauhkan diri dari minum-minuman beralkohol dan rokok. Keduanya mempengaruhi kemampuan seks anda.(tempo)

Keluhan yang Datang Bersama Dingin

Jakarta: Seperti sudah menjadi kebiasaan, dalam sehari, Kiki, 34 tahun, berganti pakaian lebih dari dua kali, mulai dari baju luar hingga pakaian dalamnya. Apalagi saat udara gerah atau dingin. Kulit karyawan swasta di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu selalu diserang gatal saat berkeringat atau kedinginan.

Gatal-gatal itu datang beserta bentol-bentol di sekujur tubuhnya. "Kalau digaruk, bentol-bentol itu bertambah besar," kata Kiki, Selasa tiga pekan lalu di kantornya. Hal yang sama juga dialami oleh kakak dan pamannya. Kiki tak tahu pasti apa penyebab datangnya bentol-bentol di tubuhnya.

Bentol-bentol itu seperti dipicu oleh pakaian dalam dengan karet ketat yang meninggalkan bekas merah. Bekas merah itu akan terasa gatal yang kemudian menjalar ke hampir sekujur tubuh. Kondisi itu akan semakin parah jika tubuh berkeringat atau kedinginan. Gatal-gatal itu, kata Kiki, tak pernah datang setelah makan sesuatu.

Kiki pernah berkonsultasi dengan dokter. Dokter hanya memberi obat antibiotik dan antialergi. Tapi obat itu hanya akan menghentikan gatalnya sesaat, lalu muncul lagi saat tubuh terkena debu atau ada di dalam ruangan yang gerah, bahkan dingin. Ia berharap gatal-gatal itu segera hilang total lantaran sangat mengganggu aktivitasnya, bahkan tak bisa ngantor.

Selain Kiki, ada Mira, sebut saja namanya begitu. Sudah beberapa pekan ini ia merasakan gatal-gatal ketika malam dan pagi hari yang relatif dingin. Kalau tidak digaruk, Mira tak tahan gatalnya, terasa seperti panas. Tapi, kalau digaruk, tubuh Mira bakal dipenuhi bentol di sana-sini plus bekas luka.

Awalnya, Mira menduga gatal-gatal itu akibat keracunan makanan. Tapi setelah diingat, Mira sudah lama tak mengonsumsi makanan hasil laut. Ia mendapatkan "bakat" gatal karena udara dingin itu dari ibunya. Bibinya pun merasakan hal yang sama.

Untuk menghentikan gatal itu, Mira dan Kiki menelan incidal, obat anti-alergi yang dibelinya tanpa resep dokter. Masalahnya, udara dingin itu masih akan datang selama musim hujan. Mira membayangkan dirinya akan terus menggaruk-garuk atau menelan incidal selama musim hujan.

Heru Sundaru dari Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan alergi gatal yang disertai bentol serta kemerahan yang dialami Kiki dan Mira dalam istilah medis disebut urtikaria. Penyebabnya bermacam-macam. "Penyebabnya bisa karena obat, transfusi darah, hepatitis akut, makanan, hingga virus HIV/AIDS," tutur Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu pada Rabu lalu di Jakarta.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Iris Rengganis, konsultan Alergi Imunologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Alergi bisa muncul akibat mengonsumsi makanan tertentu seperti udang, kepiting, ikan laut, dan kerang. Selain makanan hasil laut, buah seperti stroberi, pisang, kiwi, apel, jeruk, tomat, cokelat, hingga susu, kacang tanah, maizena, gandum, dan telur juga bisa menimbulkan gatal-gatal. Mereka yang tak tahan terhadap alergi, harus menghindari sejumlah makanan tersebut.

Bahkan, alergi juga bisa disebabkan faktor genetik atau keturunan dan faktor lingkungan. Tapi, untuk memastikan penyebab gatal itu, baik Heru maupun Iris harus melakukan observasi terhadap pasien. "Juga harus melakukan tes alergi seperti uji tusuk kulit untuk mengetahui faktor pencetus," kata Iris, Selasa tiga pekan lalu di Jakarta.

Lalu apa yang kira-kira menjadi penyebab gatal-gatal yang dialami Kiki dan Mira? Jika didasarkan pada pengakuan mereka, Iris menduga penyebab gatal-gatal yang dialami Kiki dan Mira adalah karena faktor keturunan. Alergi karena faktor keturunan, kata Iris, tidak bisa dihilangkan secara total.

Tapi, gatal-gatal itu bisa dicegah atau diminimalkan dengan mengontrol lingkungan atau menghindari hal-hal yang berpotensi mencetuskan gatal. Jika alergi terhadap udara dingin, misalnya, "Hindari rasa dingin dengan mengenakan baju hangat dan tidur tanpa AC. Bila perlu, pakai kaos kaki," ujar Iris.

Gatal-gatal juga bisa muncul karena faktor hormon. Tidak sedikit orang yang mengalami gatal-gatal karena adanya perubahan hormon. Misalnya gatal-gatal sehabis melahirkan atau yang berkaitan dengan menstruasi.(tempo)

Sinar Matahari Membantu Anak Hindari Kerabunan

Sydney: Menghabiskan waktu beberapa jam di luar rumah setiap hari dapat membantu anak-anak menghindari jadi rabun ayam, kata peneliti Australia Selasa.

bermainTerkena cahaya terang selama dua sampai tiga jam sehari membantu mengatur pertumbuhan mata, yang secara dramatis mengurangi risiko kerabunan. Temuan ini berdasarkan studi Australia Research Council.

Rabun ayam, yang secara tradisional merupakan masalah pada mereka yang berpendidikan tinggi, telah mencapai rekor di Asia Timur, kata ketua riset Profesor Ian Morgan kepada AFP.

Kini semakin meningkat jumlah anak-anak di Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea dan Cina yang berjuang dengan pandangan mereka. 90 persen orang Singapura kini memakai kacamata saat mereka meninggalkan sekolah, katanya.

"Sementara di Australia angkanya sekitar 20 persen. Kami cukup tertarik dengan hal ini. Untuk satu negara yang cukup baik pendidikannya kita memiliki kasus kerabunan yang minim di Australia," kata Morgan.

Sebuah studi menunjukkan 30 persen anak Singapura usia enam dan tujuh tahun telah mengembangkan kondisi itu, dibandingkan hanya 1,3 persen warga Australia yang mengalami kondisi sama pada umur yang sama.
Angka-angka yang sama ketika membandingkan anak-anak keturunan Cina dari kedua negara, yang memungkinkan peneliti menghilangkan etnis sebagai salah satu faktor.

Satu perbedaan yang signifikan antara kedua populasi adalah waktu yang dihabiskan di luar rumah. Anak-anak dari Singapura menghabiskan rata-rata 30 menit di luar rumah setiap hari, sementara rata-rata anak Australia menghabiskan dua jam.
Kedua kelompok menghabiskan waktu yang sama untuk membaca, menonton televisi dan bermain game komputer, sekaligus menolak teori bahwa layar monitor merusak mata anak, ujarnya.(tempo)